Anda di sini: Hal Depan > Artikel > Artikel Islam > Menata Organisasi Ta'mir Masjid

Kalender Kegiatan

April 2014
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3

Waktu Sholat

[ Tukar Kawasan ]
Tutup

Login Form



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini649
mod_vvisit_counterKemarin610
mod_vvisit_counterMinggu Ini2729
mod_vvisit_counterMinggu Lalu1557
mod_vvisit_counterBulan Ini7103
mod_vvisit_counterBulan Lalu20649
mod_vvisit_counterTotal544739

Online (20 menit lalu): 30
IP Anda: 107.22.70.215
,
2014-04-19 20:14
Menata Organisasi Ta'mir Masjid PDF Print E-mail

Menata Organisasi Ta'mir Masjid

 

Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah)

 

ORGANISASI TA’MIR MASJID YANG DIPERLUKAN

Masjid tempat beribadah umat Islam, baik dalam arti khusus (mahdlah) maupun luas (ghairu mahdlah). Bangunannya yang besar, indah dan bersih sangat didambakan, namun masih kurang bermakna apabila tidak ada aktivitas syi’ar Islam yang semarak. Shalat berjama'ah merupakan parameter adanya kemakmuran Masjid, dan sekaligus menjadi indikator kereligiusan umat Islam di sekitarnya. Kegiatan-kegiatan sosial, da'wah, pendidikan dan lain sebagainya juga akan menambah kesemarakan dalam memakmurkan Masjid.

Masjid adalah Baitullah tempat kita beribadah dan kembali kepada-Nya. Di Masjid kita mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berjama’ah dalam shaff-shaff yang teratur. Sikap dan perilaku egaliter dapat dirasakan, kebersamaan dan ukhuwah nampak dengan jelas, serta perasaan saling mengasihi sesama muslim terbentuk dengan baik. Di sini pula ghirah Islam dan kesatuan jama’ah menjadi nyata.

Di masa Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain digunakan sebagai tempat shalat berjama'ah, Masjid juga memiliki fungsi sosial-budaya. Bagi umat Islam mengaktualkan kembali fungsi Masjid sebagai tempat ibadah dan pusat kebudayaan adalah merupakan sikap kembali kepada sunnah Rasul; yang semakin terasa diperlukan di era globalisasi dengan segenap kemajuannya. Reaktualisasi fungsi dan peran Masjid adalah salah satu jawaban untuk meraih kembali kejayaan umat Islam.

Dengan mengaktualkan fungsi dan perannya berarti kita telah menempatkan Masjid pada posisinya dalam masyarakat Islam. Masjid menjadi pusat kehidupan umat. Artinya umat Islam menjadikan Masjid sebagai pusat aktivitas jama’ah-imamah serta sosialisasi kebudayaan dan nilai-nilai Islam. Pada gilirannya, insya Allah, membawa umat pada keadaan yang lebih baik dan lebih islami.

Untuk merealisasikan fungsi dan peran Masjid di abad ke-15 Hijriyah diperlukan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengadopsi prinsip-prinsip organisasi dan management modern. Sehingga aktivitas yang diselenggarakan dapat menyahuti kebutuhan umat serta berlangsung secara efektif dan efisien. Kebutuhan akan organisasi Ta’mir Masjid yang profesional semakin tidak bisa ditawar lagi mengingat kompleksitas kehidupan umat manusia yang semakin canggih akibat proses globalisasi, kemudahan transportasi, kecepatan informasi dan kemajuan teknologi.

 

 MERUBAH BUDAYA ORGANISASI

Organisasi Ta’mir Masjid secara kuantitas sudah banyak, namun sebagian besar kinerjanya masih sangat memprihatinkan. Hal ini terlihat dengan kurang profesionalnya Pengurus maupun minimnya aktivitas yang diselenggarakan. Banyak faktor yang mempengaruhi kurang profesionalnya kebanyakan Pengurus Ta’mir Masjid, di antara yang penting adalah minimnya pengetahuan dan kemampuan berorganisasi mereka. Bahkan, ada di antara mereka yang belum mengenal apa itu ilmu organisasi dan management. Sehingga menimbulkan budaya organisasi yang kurang sehat dan dinamis.

Untuk itu, umat Islam perlu menata organisasi Ta’mir Masjid yang sudah ada, terutama sistim organisasi dan managementnya. Merubah budaya organisasi bukan hal yang mudah karena akan menghadapi banyak kendala. Kendala-kendala itu muncul disebabkan adanya faktor-faktor internal dan eksternal, seperti misalnya:

1. Budaya lama yang sulit menerima perubahan (status quo).

2. Adanya orang-orang yang merasa kehilangan pengaruh atau tersingkir.

3. Ketidaksiapan umat dalam menerima sistim baru.

4. Sumber daya yang masih kurang mendukung.

5. Kurang jelasnya informasi maupun belum adanya lembaga pemberdayaan (konsultan) Masjid yang handal.

6. Belum adanya bukti yang dapat dijadikan contoh.

Adanya kendala bukan berarti kita harus menyerah, tetapi justru dituntut untuk lebih serius dalam membawa perubahan positif. Bila perubahan ini berhasil, insya Allah, kita akan menyaksikan organisasi Ta’mir Masjid yang profesional di mana-mana. Mereka mampu mengelola aktivitas kemasjidan secara baik dan bisa saling bekerja sama di tingkat lokal maupun nasional.

 

MEMANFAATKAN ILMU ORGANISASI DAN MANAGEMENT

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan kepada umat manusia berbagai macam ilmu pengetahuan, baik quraniah maupun kauniah. Semua manusia, baik muslim maupun kafir, mendapat hak sama untuk mendapatkan pengetahuan, sebagaimana firman-Nya:

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:3-5, Al ‘Alaq).

Demikian pula, ilmu organisasi dan management adalah merupakan karunia Allah juga, yang diberikan kepada para hamba-Nya yang mau memperhatikan sunnatullah dan ciptaan-Nya di alam raya ini. Tidak ada salahnya bila kita mengadopsi keilmuan tersebut dengan menggunakan filter nilai-nilai Islam.

Kita tahu, bahwa ilmu organisasi dan management tumbuh secara terstruktur di dunia Barat dan kemudian berkembang dengan baik ke seluruh dunia, terutama Jepang. Mengingat mereka kebanyakan belum muslim, maka diperlukan seleksi. Diakui atau tidak, umat Islam telah memanfaatkannya. Karena itu diperlukan sentuhan nilai-nilai Islam dalam mengaplikasikannya. Bahkan, bilamana memungkinkan umat Islam dapat menghadirkan organisasi dan management yang islami.

Organisasi dan management telah menjadi bagian yang menyatu dengan kehidupan manusia. Insya Allah, dengan memanfaatkannya suatu lembaga, termasuk organisasi Ta’mir Masjid, dapat bekerja mencapai tujuan secara efektif dan efisien, serta dapat mengantisipasi perkembangan organisasi ke depan. Orang-orang modern telah mengaplikasikan dalam berbagai aktivitas, baik yang bertujuan komersial maupun sosial, dan nyata-nyata telah memberi banyak sumbangan bagi kemajuan lembaga mereka. Organisasi Ta’mir Masjid bila ingin maju harus mengadopsi ilmu organisasi dan management modern.

Pada dasarnya penerapan organisasi dan management dalam sistim organisasi Ta’mir Masjid adalah untuk mempermudah usaha mencapai tujuan. Dengan menerapkan prinsip-prinsipnya, insya Allah, akan diperoleh beberapa keuntungan, di antaranya:

1. Semua aktivitas dilakukan secara terencana dan direncanakan berdasarkan pertimbangan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan.

2. Aktivitas diselenggarakan secara terorganisir dengan menghindari terjadinya tumpang tindih.

3. Dalam melaksanakan aktivitas lebih terkoordinasi dengan sistim kepemimpinan dan tanggungjawab yang jelas.

4. Pelaksanaan aktivitas maupun hasilnya dapat mudah diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan penyelengaraannya.

 

MENCARI ALTERNATIF FORMAT BARU

Di Indonesia telah berkembang organisasi Ta’mir Masjid, atau dengan nama lainnya seperti: Dewan Kesejahteraan Masjid, Dewan Kepengurusan Masjid, Dewan Kemakmuran Masjid atau Pengurus Masjid; yang menjadikan Masjid sebagai titik pusat perhatiannya. Sementara faktor umat sebagai satu kesatuan jama’ah masih belum tersentuh dengan baik, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pembinaannya. Masjid dan umat kurang menyatu karena sistim jama’ah-imamah yang kurang tergarap.

Diperlukan kajian-kajian atau pemikiran -khususnya oleh Departemen Agama, IAIN, Universitas Islam dan Ormas Islam- tentang konsep kesatuan Masjid-jama’ah-imamah, agar dapat dihadirkan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengintegrasikan ketiganya. Namun, konsep tersebut tidak hanya untuk menyahuti pengorganisasian dalam suatu wilayah Masjid saja, tetapi juga membahas mengenai hubungan antar organisasi Ta’mir Masjid, baik di tingkat lokal maupun nasional. Juga, konsep tersebut tidak berhenti pada tataran filosofis-konsepsional saja, tetapi yang lebih penting adalah menjelma dalam konsep-konsep teknis-operasional yang dapat dilaksanakan secara langsung di lapangan.

Kalau sistim tersebut tersusun, kemudian diderivasi dalam petunjuk-petunjuk pelaksanaan dan selanjutnya diaplikasikan dengan baik dalam komunitas muslim, insya Allah, kemakmuran Masjid dan jama’ahnya yang selama ini kita dambakan dapat menjadi kenyataan. Pada gilirannya, kebangkitan Islam dan islamisasi kehidupan umat manusia akan mengalami akselerasi; dan pada akhirnya, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dapat kita rasakan bersama.

 

PENATAAN ORGANISASI TA’MIR MASJID

Saat ini perlu dihadirkan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu menyatukan Masjid, jama’ah dan imamah dalam suatu komunitas muslim. Konsep ini menekankan bukan hanya Masjid sebagai tempat aktivitas ibadah, tetapi juga umat Islam sebagai subyek sekaligus obyek dari aktivitas tersebut. Umat Islam di sekitar suatu Masjid membentuk satu kesatuan jama’ah, dan dibimbing oleh imamah Pengurus Ta’mir Masjid. Karakter yang ingin dikembangkan adalah demokratis, egaliter dan penuh partisipasi dengan dilandasi nilai-nilai Islam.

Format organisasi Ta’mir Masjid ini memanfaatkan prinsip-prinsip organisasi dengan lebih serius, seperti adanya tujuan, visi dan misi yang jelas, departementasi dalam bidang-bidang kerja, hirarki kepengurusan yang diikuti adanya hak, wewenang dan tanggungjawab, pendelegasian tugas, pengaturan besarnya span of control, unity of command dan lain sebagainya. Prinsip-prinsip management juga diaplikasikan dengan sungguh-sungguh, misalnya planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) maupun yang lebih canggih misalnya Total Quality Management (TQM). Termasuk di dalamnya adalah Siklus Deming (PDCA), Seven QC Tools, Lima-R, Management Mutu ISO, Gugus Kendali Mutu, Hoshin Planning dan lain sebagainya.

Pemikiran mendasar yang melatarbelakangi format organisasi Ta’mir Masjid adalah karena semakin beragamnya kebutuhan da’wah islamiyah dan keinginan untuk melibatkan seluruh potensi umat dalam upaya-upaya memakmurkan Masjid serta kebutuhan dalam menyahuti kebangkitan Islam yang telah dicanangkan di abad 15 Hijriyah ini.

 

 PENUTUP

Dalam mendukung kebangkitan Islam, Masjid perlu diposisikan sebagaimana fungsi dan perannya di masa Rasulullah dan para sahabatnya. Sehingga, Masjid dapat menjadi sentra aktivitas umat dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menuju dunia Islam yang lebih baik. Disayangkan, kebanyakan Masjid kita belum dikelola secara baik dengan sistim pengelolaan yang efektif dan efisien menuju pengamalan Islam secara kaffah. Karena itu diperlukan adanya format-format baru organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengintegrasikan antara Masjid, jama’ah dan imamah, sehingga dapat memakmurkan Masjid dan umat Islam di sekitarnya.


Sumber : Institut Manajemen Masjid

Comments (7)
  • Bukhori  - Komentar terhadap tulisan menata organisasi
    Saya sangat tidak setuju dengan apa yang ditulis di atas, tulisan tersebut sangat menyakiti para pengurus masjid. penulis telah berburuk sangka kepada para ta'mir bahwa mereka tidak ngerti oraganisasi dan suka mencari jabatan yang jika tidak menjabat merasa kehilangan. tidak semua pengurus masjid yang mukhlis, rela mengorbankan harta, waktu dan keluarga untuk mengurus masjid. banyak pengurus masjid merasa bahwa ta'mir masjid bukan jabata
  • Gunawan Aslah  - Komentar terhadap tulisan menata organisasi
    Ass. Wr. Wb. Pak Bukhori Mohon maaf sebelumnya, tapi mungkin Pak Bukhori coba baca kembali karena pada tulisan tersebut di tulis "Banyak faktor yang mempengaruhi kurang profesionalnya KEBANYAKAN Pengurus Ta’mir Masjid". Kata "KEBANYAKAN" merupakan salah satu faktor bagi kami untuk memposting tulisan tersebut karena dengan adanya kata "KEBANYAKAN" berarti tidak ditujukan untuk seluruh Pengurus Masjid, Tapi hanya untuk person yang insyALLAH tidak ada tapi mungkin juga ada yang seperti dimaksud penulis tersebut. Sumber tulisan tersebut berasal dari situs Institut Manajemen Masjid (http://immasjid.com) yang kami posting ke website ini. Tulisan tersebut sudah atas izin pengelola immasjid.com dan sudah di review terlebih dahulu sebelum kami posting di sini. Semoga apa yang kami sampaikan ini dapat di terima oleh Pak Bukhori dan terimakasih sudah mau memberikan atensinya terhadap apa yang ada di website kita ini semoga Pak Bukhori tetap dapat terus memberikan masukkan jika ada tulisan atau postingan yang sekiranya kurang sesuai.
  • harris nasution  - setuju
    sudah saatnya mesjid punya sistem yg baik, dimana masing2 pengurus minimal mengerti akan fungsi dan tugasnya, tdk seperti sistem tradisional yg hanya mengandalkan yg senior, yg tua sehingga keputusan yg diambil cenderung otoriter. mesjid harus terbiasa dengan pengambilan keputusan2 bersama, sehingga keputusan itu dapat dipertanggung jawabkan semua struktur kepengurasan. Maju terus Mesjid Raya vila inti persada, insya Allah bisa jauh lebih baik..Amiiin
  • ali muhidin  - setuju, masjid mana yang dapat memberikan contoh?
    menegement masjid yang baik adalah harapan umat islam untuk dapat membuktikan bahwa islam tinggi derajatnya dan tidak ada yang lebih tinggi darinya namun adakah masjid dapat memberikan contoh management yang baik? masjid tersebut harus mendapat apresiasi yang baik dan dipublikasikan sebagai sebuah berrita gembira bagi umat islam. amin.....
  • Deddy Haryadi  - Merupakan telaah yang bersifat korektif, SETUJU
    Sebagai pengurus Mesjid, saya sangat menghargai dan mendukung kepada isi artikel ini. Saya melihat bahwa nara sumber ingin menjelaskan realita yang ada di (KEBANYAKAN) kepengurusan mesjid saat ini. Tapi apapun itu, artikel ini memberikan masukan yang bersifat corective, educative dan inspirative. Terimaksih saya sampaikan ke nara sumber, semoga anda dapat terus berkarya dengan mengexplore inpormasi baru dan di sharing pada ummat agar kamipun termotivasi untuk dapat mensejahterakan ummat muslin khususnya di daerah kami. Deddy Haryadi Pengurus Mesjid AL Falaq BANDUNG, WEST JAVA INDONESIA
  • akhmad syayuthi, MSi  - manajemen masjid berkonsep islami
    saya setuju dengan penggunaan prinsip-prinsip manajemen dalam menata-kelola masjid di Indonesia. Namun dari tulisan Bapak tidak terlihat tata-kelola masjid menurut prinsip-prinsip islami. Alangkah lebih baiknya bila menggunakan tata-kelola islami. Misalnya bagaimana kriteria seorang pengurus masjid, dalam bermusyawarah, strategi, etika, pengrganisasian, perencanaan dan lain-lain. Karena saya yakin islam mempunyai solusi untuk kemaslahatan masjid.
  • Jamal Umasangadji  - Menrespon terhadap Penjabaran tentang Tugas dan fu
    Dari penjabaran mengenai Tugas dan Fungsi BTM, di setiap Masjid, Saya sangat respek terhadap penjelasan Bpk, hanya saja perlu ada penjelasan secara jelas, tentang batasan Tugas BTM dan Imam Masjid, karna kedua Lembaga Masjid ini sering terjadi konflik internal, yang dampak nya sangat besar terhadap jamaah, karna tidak semua Imam atau BTM, punya latar belakang di sekolah Pesantren, atau Perguruan tinggi Agama Islam apalagi Organasasi, utk itu Saya harapkan agar pada penulisan Bpk selanjutnya, perlu ada penjelasan secara sistimatis terhadap kedua Lembaga diatas, Atas respon Bpk sebelumya Saya ucapkan terima kasih, Wassalam,
Tulis komentar
Detail kontak anda:
Comment:
Security
Silahkan inputkan kode anti-spam yang bisa terbaca pada gambar ini.