Anda di sini: Hal Depan > DR.H.Fuad Thohari, M.A. > Mabit Di Muzdalifah & Di Mina

Kalender Kegiatan

April 2014
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3

Waktu Sholat

[ Tukar Kawasan ]
Tutup

Login Form



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini396
mod_vvisit_counterKemarin610
mod_vvisit_counterMinggu Ini2476
mod_vvisit_counterMinggu Lalu1557
mod_vvisit_counterBulan Ini6850
mod_vvisit_counterBulan Lalu20649
mod_vvisit_counterTotal544486

Online (20 menit lalu): 30
IP Anda: 50.19.74.67
,
2014-04-19 11:56
Mabit Di Muzdalifah & Di Mina PDF Print E-mail

MABIT DI MUZDALIFAH DAN DI MINA

Oleh: H. Fuad Thohari[1]

 

A. Pendahuluan

 Mabit di Muzdalifah dan di Mina merupakan bagian dari ibadah Haji. Semua calon Haji yang menginginkan ibadah hajinya sempurna dan mabrur di mata Allah, harus memahami persoalan Mabit di Muzdalifah dan di Mina. Di  zaman Rasulullah SAW, yang tidak mabit di Muzdalifah hanya orang yang kurang sehat atau kaum ibu yang lanjut usia, atau para pekerja pengairan zamzam. Sedangkan saat ini banyak jamaah yang tanpa sebab  tidak mabit di Muzdalifah hingga pagi.

 

Melihat fenomena ini, nampaknya ada beberapa  hal yang mesti diketahui calon haji terkait dengan ibadah mabit di Muzdalifah dan Mina, mulai dari: (1) hukum mabit, (2) waktu pelaksanakan mabit, (3) area mabit, (4) amalan-amalan yang dilakukan selama mabit, (5) kekeliruan-kekliruan selama mabit, dan lain-lain. Dengan memahami setidaknya beberapa persoalan ini, diharapakan semua calon jama'ah haji akan melaksanakan mabit dengan benar di Muzdalifah dan   di Mina, sesuai petunjuk yang diajarkan Rasulullah saw.


B. Pembahasan

1. Mabit Di Muzdalifah

Mabit di Muzdalifah artinya barmalam atau berhenti sejenak atau menginap    di Muzdalifah pada malam 10 Dzul Hijjah selepas wukuf di Arofah. Dibagian sebelah barat dari Muzdalifah ini terletak Masy'aril Harom, yaitu gunung Quzah[2]. Mufassir lain mengatakan,  Masy'aril Harom adalah Muzdalifah seluruhnya[3]. Di tempat itu jama'ah Haji melakukan mabit atau wukuf, minimal  telah melewati tengah malam. Memang,  yang lebih utama  mabit dilakukan sampai selesai shalat Subuh sebelum berangkat ke Mina untuk melakukan  Jumroh Aqobah.

 

a. Hukum dan Waktu Pelaksanaan Mabit Di Muzdalifah

Para imam madzhab sependapat bahwa mabit di Muzdalifah hukumnya wajib, kecuali bagi seseorang yang mendapat udzur, misalnya: bertugas melayani jama'ah, sakit, merawat orang sakit, menjaga harta, dll.. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat  Al-Baqarah ayat 198,

...... فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ .....

Setelah kamu meninggalkan Arofah maka berdzikirlah mengingat Allah            di Masy'aril Harom. (Al Baqoroh/2:198).

Kewajiban mabit di Muzdalifah ini juga didasarkan kepada hadis Nabi saw riwayat Jabir[4], sbb.:

صحيح مسلم - (ج 6 / ص 245

.......أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا شَيْئًا ثُمَّ اضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ وَصَلَّى الْفَجْرَ حِينَ تَبَيَّنَ لَهُ الصُّبْحُ بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى أَتَى الْمَشْعَرَ الْحَرَامَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَدَعَاهُ وَكَبَّرَهُ وَهَلَّلَهُ وَوَحَّدَهُ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى أَسْفَرَ جِدًّا فَدَفَعَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ..... 

……Nabi saw. mendatangi Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan Isya dengan adzan sekali dan dua kali iqomat, dan tidak shalat (sunat) di antara keduanya. Kemudian berbaring (tidur) sampai terbit fajar: Lalu shalat Subuh setelah jelas waktu Subuh dengan sekali adzan dan sekali iqomat. Kemudian mengendarai Qoswaa sehingga sampai di Masy'ar al Harom lalu menghadap kiblat, berdo'a, bertakbir, bertahlil dan membaca kalimat tauhid lalu terus bewukuf sampai terang benar. Lalu berangkat sebelum terbit matahari......

 

Secara detail, ketentuan  mabit di Muzdalifah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, menurut madzhab Syafi’i, jamaah harus berada di Muzdalifah walaupun sebentar dengan syarat harus berada di Muzdalifah,  sekurang-kurangnya melewati pertengahan malam setelah wuquf di Arafah dan tidak perlu berdiam (al-muktsu), baik ia (jamaah haji) tahu sedang berada di Muzdalifah atau tidak.

Kedua, menurut madzhab Hanafi, berada di Muzdalifah merupakan wajib haji, dan cukup sesaat sebelum fajar. Apabila tidak berada di Muzdalifah  sebelum terbit fajar, jamaah haji harus membayar dam, kecuali ada alasan syar’I, seperti sakit, maka tidak apa-apa.

Ketiga, menurut madzhab Hambali, berada di Muzdalifah adalah wajib haji dan dapat dilakukan kapan saja, sejenak dari pertengahan kedua malam Nahar, bukan karena dia petugas pengairan atau penggembala.

Keempat, menurut madzhab Maliki, termasuk wajib haji adalah turun di Muzdalifah sekedarnya dalam perjalanan setelah wuquf di Arafah pada malam hari, pada saat menuju Mina.

Dasar yang digunakan para imam madzhab mengenai kewajiban mabit di Muzdalifah sebagai berikut:

Pertama, keterangan yang dikemukakan  Imam al-Nawawi Al-Dimasqi dalam kitabnya, Al-Majmu’,  bahwasanya kewajiban membayar Dam bagi yang meninggalkan mabit di Muzdalifah dikenakan   bagi orang yang meninggalkannya karena  tidak ada udzur[5].

 

Kedua, riwayat Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muhadditsin lainnya,  sebagai berikut[6].:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ مُضَرِّسِ بْنِ أَوْسِ بْنِ حَارِثَةَ بْنِ لَامٍ الطَّائِيِّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُزْدَلِفَةِ حِينَ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ مِنْ جَبَلَيْ طَيِّئٍ أَكْلَلْتُ رَاحِلَتِي وَأَتْعَبْتُ نَفْسِي وَاللَّهِ مَا تَرَكْتُ مِنْ حَبْلٍ إِلَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فَهَلْ لِي مِنْ حَجٍّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ صَلَاتَنَا هَذِهِ وَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ وَقَدْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذَلِكَ لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَقَدْ أَتَمَّ حَجَّهُ وَقَضَى تَفَثَهُ

Dari Urwah bin Mudras bin Aus Atha’ir Ashabi berkata: aku datangi Rasulullah saw di Muzdalifah ketika beliau keluar sembahyang maka aku berkata: wahai Rasulullah aku datang dari gunung Tha’yi aku lelah dari perjalanan dan lemah badanku, demi allah aku tidak meninggalkan dari sebuah gunung  kecuali aku berhenti padanya. Apakah sah hajiku? Berkata Rasulullah saw, “Barang siapa menghadiri shalat kami (Subuh) ini dan wuquf bersama kami hingga kami berangkat dari sini, dan ia sudah wuquf di Arafah sebelum itu malam atau siang, maka sempurnalah hajinya dan selesailah ibadahnya”.

 

b. Tempat Mabit di Muzdalifah

Menurut imam Ahmad, seluruh kawasan Muzdalifah merupakan tempat mabit, kecuali lembah Mahasir (terletak antara Muzdalifah dan Mina). Hanya saja, mabit atau wuquf di Quzzah dinilai lebih utama, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ali ra., sebagai berikut[7]:

سنن أبي داود - (ج 5 / ص 289)

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ فَلَمَّا أَصْبَحَ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَقَفَ عَلَى قُزَحَ فَقَالَ هَذَا قُزَحُ وَهُوَ الْمَوْقِفُ وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

Menurut Sayid Sabiq[8], Quzzah merupakan bukit di Muzdalifah, yang dalam surat Al-Baqarah ayat 198 diredaksikan dengan al-Masy'ar al-Haram.

 

c. Aktifitas Ketika Mabit di Muzdalifah

Menurut sunnah Rasulullah saw, aktifitas yang dilakukan ketika mabit                   di Muzdalifah  sebagai berikut: Shalat berjamaah Maghrib dan Isya dengan jama' takhir dan qosor di Muzdalifah dengan 1 kali adzan dan 2 kali iqomat, tanpa ada shalat sunat di antara keduanya. Sesudah shalat, beristirahat (tidur) sampai terbit fajar. Setelah terbit fajar shalat berjamaah Subuh dengan 1 kali adzan dan 1 kali iqomat. Selesai shalat Subuh lalu berwukuf di Masy'aril Harom, berdo'a, membaca tahmid, tahlil, kalimat tauhid (Laa Ilaaha illallah), sampai terang. Kemudian berangkat ke tempat Jumroh Aqobah di Mina sebelum matahari terbit. Selain itu, pada saat mabit di Muzdalifah, jama’ah haji mencari batu kerikil sejumlah yang diperlukan untuk melempar jumrah    di Mina esok hari dan hari lain setelahnya.

 

d. Kekeliruan-kekeliruan  Yang  Dilakukan Jama'ah  Di Muzdalifah

Kekeliruan-kekeliruan  yang  dilakukan Jama'ah haji Di Muzdalifah, setidaknya bisa dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, sebagian jama'ah haji, di saat pertama tiba di Muzdalifah, sibuk dengan memungut batu kerikil sebelum melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dan mereka berkeyakinan bahwa batu-batu kerikil pelempar Jamrah itu harus diambil dari Muzdalifah. Yang benar, adalah dibolehkannya mengambil batu-batu itu dari seluruh tempat di Tanah Haram. Sebab keterangan yang benar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau tidak pernah menyuruh agar dipungutkan batu-batu pelempar Jamrah Aqabah dari Muzdalifah. Hanya saja beliau pernah dipungutkan batu-batu itu di waktu pagi ketika meninggalkan Muzdalifah setelah masuk Mina. Ada pula sebagian mereka yang mencuci batu-batu itu dengan air, padahal inipun tidak disyari'atkan.

Kedua, pada saat mabit di Muzdalifah, apalagi  setelah tengah malam lewat, banyak jama'ah yang mengumandangkan takbir lengkap seperti di tanah air. Mereka seakan-akan ingat kebiasaan di tanah air, kalau malam lebaran selalu membaca takbir. Padahal, menurut Imam al-Nawawi al-Dimasyqy, takbir lengkap ini sunnah dikumandangkan untuk menggantikan talbiyyah kalau jama'ah haji telah melempar jumrah aqabah, minimal untuk lemparan pertama [9].

Ketiga, banyak jama'ah yang tidak sabaran telah meninggalkan Muzdalifah sebelum tengah malam (ba'da zawal). Mereka berebut bus, pingin buru-buru ke Mina untuk melontar jamarat Aqabah atau ke Makah untuk Thawaf Ifadhah. Padahal mayoritas imam mazhab sepakat, mabit di Muzdalifah itu sekurang-kurangnya sampai tengah malam (ba'da zawal), walaupun yang afdhal, mabit di Muzdalifah itu berlangsung sampai subuh. Jama'ah yang meninggalkan Muzdalifah sebelum zawal,  wajib membayar dam.


2. Mabit  di Mina

a. Hukum Mabit Di Mina

Terdapat dua pendapat ulama, yaitu:

Pertama, Pendapat Imam Malik, Imam Ahmad bin  Hanbal, dan Imam Syafi’i, mabit   di Mina pada hari tasyrik hukumnya wajib, kecuali ada udzur syar’i. Apabila sama sekali tidak mabit di Mina pada hari tasyrik, maka wajib membayar Dam seekor kambing. Sedangkan apabila meninggalkan mabit satu malam, maka wajib membayar fidyah satu mud (3/4 liter beras atau semacamnya), dan apabila meninggalkan mabit dua malam (bagi yang mengambil  nafar tsani), maka wajib membayar fidyah dua mud.

Kedua, Pendapat Imam Abu Hanifah  dan satu pendapat –yang lain— dari  Imam Syafi’i, mabit di Mina hukumnya sunnat. Apabila sama sekali tidak mabit pada hari tasyrik, maka disunatkan membayar Dam seekor kambing, dan apabila hanya sebagian saja, maka disunatkan membayar fidyah.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi DKI Jakarta, dalam membahas tentang Hukum Mabit di Mina memfatwakan sebagai berikut:

1. Menurut Jumhur Ulama (Madzhab Syafi'I, Maliki, dan Hambali), hukum Mabit        di Mina selama dua malam bagi jamaah haji yang mengambil nafar awwal atau tiga hari bagi jamaah haji yang mengambil nafar tsani adalah wajib. Oleh karena itu, jamaah haji yang tidak mabit di Mina diwajibkan membayar Dam. Hal ini didasarkan pada praktek ibadah haji yang dilaksanakan Rasulullah SAW dan sabda beliau:[10]

جَابِرَ بْنِ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ رَمَى رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  الْجُمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ وَيَقُوْلُ لِتَأْخُذُوْا عَنِّي   مَنَاسِكَكُمْ ....

" Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah melempar Jumrah pada hari penyembelihan dan bersamda: Ambillah dariku tata cara ibadah haji kalian".

 

2.      Menurut Madzhab Hanafi, hukum Mabit di Mina selama dua malam bagi jamaah haji yang mengambil nafar awwal atau tiga hari bagi jamaah haji yang mengambil nafar tsani adalah sunnah. Oleh karena itu, jamaah haji yang tidak Mabit di Mina tidak diwajibkan membayar Dam, hanya dinilai kurang baik.  Hal ini didasarkan sikap Rasulullah SAW yang memberikan dispensasi kepada al-'Abbas untuk tinggal              di Makah karena bertugas mengurusi air minum. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar RA., sebagai berikut:[11]

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ اسْتَأْذَنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِي مِنًى مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ فَأَذِنَ لَهُ

Dari Ibn Umar RA. bahwa Abbas bin Abdul Muththalib meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk menginap di Makah pada malam-malam hari Mina karena mengurusi air minum, maka Nabi mengizinkannya".

 

Demikian juga dispensasi yang diberikan Rasulullah SAW kepada para penggembala onta untuk tidak Mabit di Mina pada hari Tasyriq. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan sahabat 'Ashim ibn 'Adi RA. :[12]

عن عاصم بن عدي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رخص لرعاء الإبل أن يتركوا المبيت بمنى

"Dari 'Ashim bin 'Adi RA. bahwa Rasulullah SAW memberikan izin kepada para pengembala onta untuk tidak menginap di Mina".

 

3. Jamaah haji agar berusaha maksimal  untuk Mabit di Mina pada malam hari Tasyriq. Jika hal itu menimbulkan kesulitan, mereka diperbolehkan tidak Mabit di Mina. Hal ini didasarkan pada sikap Rasulullah SAW yang selalu memilih sesuatu yang paling mudah selama tidak menimbulkan dosa, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sebagai berikut.:[13]

عن عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا

“Diriwayatkan dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW tidak pernah memilih di antara dua persoalan, kecuali pasti memilih yang paling ringan di antaranya selama yang teringan itu tidak berdosa".

4. Jika jamaah haji meninggalkan Mabit di Mina selama satu malam, hendaknya bershadaqah satu mud (7 Ons) beras. Jika dua malam, dua mud (1,4 kg.) beras, dan jika tiga malam, maka wajib membayar Dam. Akan tetapi jika tidak mampu, maka tidak wajib. Hal ini didasarkan pada dalil-dalil sebagai berikut:

Pertama, pendapat Imam Syafi'i :[14]

قال الشافعي: من بات من ليالي التشريق من غير منى فليتصدق بمد، فإن بات ليلتين فمدان، فإن بات ثلاثا فدم وروي عنه: فى ليلة ثلث دم و فى ليلتين ثلثا دم و فى ثلاث ليال دم.

Imam asy-Syafi'i berkata, “Barangsiapa menginap satu malam dari malam-malam Tasyriq di luar Mina, maka harus bershadaqah satu mud. Kalau ia menginap dua malam, maka harus bershadaqah dua mud, dan kalau menginap tiga malam berturut-turut (di luar Mina) maka harus membayar Dam. Juga diriwayatkan dari Imam Syafi'i: satu malam sepertiga Dam, dua malam dua pertiga Dam, dan tiga malam harus bayar Dam penuh".

Kedua, pendapat Imam Malik dan Ahmad bin Hambal RA.:[15]

وقال الملك وأحمد: ومن ترك المبيت بغير عذر وجب عليه الدم

Imam Malik dan Ahmad berkata,  “Barangsiapa tidak menginap di Mina tanpa udzur, dia wajib membayar Dam".

Ketiga,  Pendapat Sahabat Abdullah bin 'Abbas RA.:[16]

قال ابن عباس: إذا رميت الجمار فبت حيث شئت

Sahabat Abdullah ibnu Abbas berkata, “Jika engkau telah melempar Jamarat (beberapa Jumrah), maka menginaplah di mana saja engkau kehendaki.

Keempat, pendapat Sahabat Abdullah ibn Umar RA.:[17]

وعن ابن عمر رضي الله عنه أنه كره المبيت بغير منى أيام منى ولم يجعل واحد منهم فى ذلك فدية أصلا

"Dari Ibnu Umar RA. bahwa ia tidak senang menginap selain di  Mina pada hari-hari Mina. Sungguh pun demikian, tidak ada seorang pun di antara mereka (para sahabat) yang mewajibkan fidyah bagi jamaah haji yang menginap di luar Mina ".

 

Kelima, pendapat Imam Mujahid RA.:[18]

قال مجاهد لا بأس بأن يكون أول الليل بمكة وأخره بمنى أو أول الليل بمنى وأخره بمكة

Mujahid berkata, "Bukanlah suatu kesalahan jika seseorang menginap pada awal malam di Makah dan akhirnya di Mina atau awal malam di Mina dan akhir malam di Makah".

Keenam, pendapat Imam Ibnu Hazm RA. dalam kitabnya al-Muhalla:[19]

وقال ابن حزم ومن لم يبت ليالي منى فقد أساء و لا شيء عليه

Ibnu Hazm RA. Berkata,  “Barangsiapa tidak menginap di Mina pada malam-malam Mina, maka dia telah melakukan perbuatan yang kurang baik, tetapi tidak ada kewajiban (denda, shadaqah, fidyah) apapun atasnya".

Menurut Ibnu Daqiq al-'Id, faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan pendapat ulama di atas adalah, karena tidak ada keterangan apapun dari Syari' (Allah SWT dan Rasulullah SAW) yang menjelaskan sanksi bagi orang yang tidak Mabit di Mina pada hari-hari Mina. Akibatnya para ulama berijtihad.

5.   Para jamaah haji yang Mabit di Mina, hendaknya memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Sebagaimana telah diperintahkan Allah dalam surat al-Baqarah, 2:203:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. (Al-Baqarah, 2:203).


b. Waktu Dan Tempat Mabit di Mina

Waktu mabit tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Tempat mabit bagi jamaah haji Indonesia adalah di Haratul Lisan yang berada di wilayah Mina. Sedangkan wilayah Mina terletak di antara Muzdalifah dan Makah Al-Mukarramah. Ketetapan batas wilayah Mina tidak ada dalil qath’i (pasti), baik dari Al-Qur’an maupun hadis Nabi saw.

Dasar penentuan batas luas wilayah tempat mabit di Mina merupakan masalah ijtihadi dan bukan masalah tauqifi (ketentuan yang sudah baku). Karena hal tersebut merupakan masalah ijtihadi, maka termasuk masalah khilafiyah. Oleh karena itu, ulil amri perlu ikut menentukan sikap demi kesatuan umat, sebagaimana yang diamanatkan Allah dalam surat An-Nisa’, 4:9, sebagai berikut.:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا(59)

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Demikian juga sabda Rasulullah yang diriwayatkan  Abu Hurairah ra, sebagai berikut[20].:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

Barang siapa taat kepadaku, maka dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa yang taat pada pemerintah (ulil amri), maka dia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada ulil amri, maka dia telah durhaka kepadaku.

Sedangkan dalil ushul fiqh, sebagai berikut.:

درء المفا سد مقدم على جلب المصالح

Menghindari bencana lebih diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan.

Dalam hal ini, menghindari perpecahan dan sengketa umat lebih utama dari pada mendahulukan  pendapat perorangan, sebagaimana dinyatakan dalam ka’idah sebagai berikut.:

حكم الحاكم إلزام  ويرفع الخلاف

Hukum yang telah ditetapkan qadl/hakim sifatnya mengikat dan menghilangkan khilaf

 

Dalam hal ini, ketetapan qadli sebagai ulil amri harus dipatuhi. Mengingat jumlah jamaah haji yang mabit di Mina semakin bertambah banyak, maka wilayah untuk mabit di Mina akan berkembang sesuai dengan kebutuhan jamaah yang akan melaksanakan mabit. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh, sebagai berikut[21]:

الأمر إذا   ضاق  اتسع

Apabila suatu masalah menyempit, maka dapat diperluas

Kemungkinan pengembangan wilayah seperti ini  sama halnya dengan pengembangan wilayah Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sejak tahun 1984 pemerintah Arab Saudi telah menetapkan Haratul Lisan sebagai tempat jamaah haji Indonesia dan negara-negara Asean lainnya, dan di sampingnya adalah jamaah haji dari Turki dan Eropa.

Pemerintah Indonesia telah membicarakan dengan pemerintah Arab Saudi mengenai ketetapan tersebut. Lembaga yang berwenang mengeluarkan fatwa   di Arab Saudi telah mengadakan pembahasan dan penelitian yang mendalam berdasarkan kaidah-kaidah syara’ dan memutuskan batas-batas wilayah Mina. Oleh karena itu, sejak tahun 1984 pemerintah Arab Saudi sebagai ulil amri telah memutuskan batas-batas wilayah Mina untuk mabit jamaah haji di Haratul Lisan, termasuk di dalamnya jamaah haji dari Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Turki, dan Eropa. Keputusan tersebut dipatuhi, baik secara perorangan maupun dari para pakar hukum Islam.

Ijtihad ulil amri marupakan dasar ketiga dari dasar syari’at Islam. Apabila mereka telah menyepakati suatu pendapat, setiap orang wajib melaksanakannya[22]. Keputusan Arab Saudi tersebut telah dikaji bersama pada tahun 1987 di Makah yang dipimpin Syekh Yasin Padang. Kajian tim ahli manasik haji bersama pejabat Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama, pada tanggal 2 Maret 1993 di Jakarta juga membenarkan kebijakan penyelenggara haji, bahwa Haratul Lisan termasuk wilayah Mina.

c.   Nafar Awal dan Nafar Tsani

Menurut bahasa, nafar  berarti rombongan. Sedangkan menurut istilah, nafar  adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada hari Tasyrik. Nafar dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Nafar Awal adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina lebih awal yaitu pada tanggal 12 Dzulhijjah setelah melontar jumrah untuk tanggal tersebut.

2. Nafar Tsani (Nafar Akhir)  adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah.

 

C. Penutup

Demikianlah tulisan sederhana tentang Mabit di Muzdalifah dan di Mina yang merupakan bagian penting dari rangkain ibadah Haji. Dengan memahami persoalan Mabit di Muzdalifah dan di Mina dan mengamalkan ajaran, aturan, dan tata cara mabit yang benar sesuai ajaran Rasulullah saw., insya Allah jama'ah haji akan mendapatkan kemabruran dalam hajinya.. Wallahu a'lam bi al-Shawab.



[1]Sekretaris Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta (Alamat: JIC, Jl. Kramat Jaya Raya, Koja, Tanjung Priok Jakarta Utara). Makalah dikontribusikan untuk Workshop Fiqih Haji II Tingkat Nasional, Departemen  Agama RI.

[2]Jalal al-Mahally dan Jalal al-Suyuthi, Tafsir Jalalain, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), hal. 66. Dalam tafsir itu dikatakan sbb.:

هو جبل في آخر المزدلفة يقال له ( قُزَح

[3]Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Adzim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1998). Dalam tafsir itu dikatakan sbb.:

وقال عبد الرزاق: أخبرنا مَعْمَر، عن الزهري، عن سالم قال: قال ابن عمر: المشعر الحرام المزدلفة كلها

[4]Imam Muslim, Shahih al-Muslim, (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), juz ke-6, hal. 245.

[5]Imam Nawawi Al-Dimasqi,  Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab,  (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), juz ke- 8 hal. 138-139,

[6]Muhammad bin Isa Abu Isa Al-Tirmidzi al-Salami, Sunan al-Tirmidzi, (Beirut: Dar at Turas al-Arabi, tth.), no. 215.

[7]Abi Dawud, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al-Fikr, 2001), juz ke-5, hal. 289.

[8]Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Kuwait:  Dar al Bayan, 1968), juz ke-5, hal. 202.

[9]Imam al-Nawawi al-Dimasyqi, Al-Idhah fi Manasik al-Hajji wa al-'Umrah, (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), hal. 313.

[10]Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Ishaq Al-Ishbahani, Al-Musnad al-Mustakhraj 'ala Shahih  al-Imam Muslim, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1996), juz ke-2  , hal. 953, no. 1315.

[11]Abi Husain Muslim bin Hajjaj  al-Qusyairi, al-Jami’ as-Shahih, (Makah: Isa Baby al-Halabi, 1955), juz ke-2, hal. 953, no. 1315.

[12]Dikutip dari Sayid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), juz I, hal. 726

[13]Abi Husain Muslim bin Hajjaj  al-Qusyairi, al-Jami’ as-Shahih, (Makah: Isa Baby al-Halabi, 1955), juz ke- 4,  hal.  1813, no. 2327.

[14]Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm al-Zhahiri  Abu Muhammad, Al-Muhalla, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, tth.),  juz ke-7, hal. 185.

[15]Abu Umar Yusuf bin Abdillah bin Abdul Bar al-Namiry, At-Tamhid Lima Fi al-Muwatha’ Minal Ma’ani wa al-Asanid, (Al-Maghrib: Wazarat ‘Umum al-Auqaf wa Asy-Syu’un al-Islamiah, 1387), juz ke-17, hal. 261.

[16]Abu Bakar Abdullah bin Muhammad Abi Syaibah al-Kufi, Al-Kitab al-Musannaf fi Al-Ahadis wa Al-Atsar, (Riyadz: Maktabat ar-Rusyd, 1309), cet, ke-1, juz ke-3, hal. 298.

[17]Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm azh-Zhahiri  Abu Muhammad, loc.cit.

[18]Ibid., hal. 184.

[19]Ibid.

[20]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar,  (Beirut: Dar al-Fikr, 1987),  cet.  ke-3, jilid ke-2, nomor hadis 2737.

[21]‘Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi al-Syarwani Ala Tuhfat al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, (Beirut: Dar al-Fikr,  tth.), juz  ke-5, hal. 166.

[22]M. Abduh, Tafsir al-Manar, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), jilid ke-5, hal.  211.

Comments (0)
Tulis komentar
Detail kontak anda:
Comment:
Security
Silahkan inputkan kode anti-spam yang bisa terbaca pada gambar ini.