Anda di sini: Hal Depan > DR.H.Fuad Thohari, M.A. > Relevansi Puasa Di Era Krisis Ekonomi

Kalender Kegiatan

April 2014
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3

Waktu Sholat

[ Tukar Kawasan ]
Tutup

Login Form



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini284
mod_vvisit_counterKemarin783
mod_vvisit_counterMinggu Ini284
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3605
mod_vvisit_counterBulan Ini8263
mod_vvisit_counterBulan Lalu20649
mod_vvisit_counterTotal545899

Online (20 menit lalu): 42
IP Anda: 54.211.138.180
,
2014-04-21 09:35
Relevansi Puasa Di Era Krisis Ekonomi PDF Print E-mail

Fuad ThohariRELEVANSI PUASA DI ERA KRISIS EKONOMI
OLEH : DR. H. FUAD THOHARI, MA

 

Tidak terasa kini kita kembali memasuki bulan Ramadhan tahun 1430 H. Selama bulan Ramadhan ini, kita dituntut untuk melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan, sebagaimana yang disabdakan rasulullah Muhammad saw., “Barang siapa puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Persoalan yang paling urgen untuk dikemukakan dikaitkan dengan tema di atas adalah,

bagaimana kita memaknai kehadiran puasa Ramadhan kali ini di tengah situasi krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia, dan sampai sekarang belum menampakkan tanda-tanda akan segera berakhir?

Proses Pendakian Spiritual
Secara terminologis, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan hal-hal lain yang membatalkan, dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Inilah puasa yang bernuansa fisikal sebagai proses pendakian spiritual seorang hamba ke hadirat Allah SWT.

Jika kita hanya meletakkan definisi puasa seperti di atas, itu artinya puasa tidak memiliki arti yang bernuansa moral, dan tidak berimplikasi bagi kehidupan sosial. Apalagi dijadikan sebagai solusi dari situasi krisis ekonomi yang sekarang melanda bangsa kita Indonesia. Dari sini bisa dimengerti, mengapa krisis ekonomi yang sejak awal merambah pelbagai krisis –sosial, politik, dan moralitas— di negeri yang mengklaim sangat religius, justeru semakin ruwet sesudah beberapa kali puasa Ramadhan berlangsung? Ingat, krisis melanda negeri kita sejak awal tahun 1998. Artinya kita telah melewati empat kali puasa Ramadhan. Jawabannya tidak lain karena puasa yang kita lakukan selama ini hanya berhenti pada pengayaan spiritualitas individu, dan menelantarkan pemaknaan puasa yang berdimensi sosial; dan moralitas kepada sesama.

Untuk itu —mulai sekarang— perlu disadari bahwa ajaran puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga karena tidak makan dan minum dari fajar hingga Maghrib. Ritus puasa harus dijadikan sebagai instrumen atau media agar selama satu bulan Ramadhan ini kita mau muhasabah, introspeksi, dan merenungkan nasib sesama yang diikuti dengan sumbangan nyata berupa materi lewat institusi sedekah, infaq, maupun zakat. Puasa bukan sekedar fisikal dan badaniyah, tetapi juga puasa spiritual dan moral yang diletakkan pada fungsi pencerahan kemanusiaan. Jadi, –sekali lagi-- keberhasilan puasa bukan hanya dilihat dari kemampuan menahan lapar dan dahaga selama satu bulan, melainkan kepekaan untuk menumbuhkan kepedulian sosial bagi orang-orang miskin di sekitarnya.

Mendapat Gelar Muttaqi ?
Memang benar bahwa puasa yang diikuti dengan shalat Tarawih, dzikir, tadarrus Al-Qur’an, I’tikaf, dan ritus keagamaan lainnya akan mengantarkan kesalehan spiritual seseorang sehingga mendapat gelar muttaqi, sebagaimana difirmankan Allah swt, dalam surat Al-Baqarah ayat 183. Hanya perlu digaris bawahi bahwa seseorang yang layak untuk mendapatkan titel muttaqi itu, sekurang-kurangnya harus, 1. Beriman kepada yang ghaib (eskatalogis), 2. Mendirikan salat, dan 3. Menafkahkan sebagian rizki yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Inilah yang ditegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 3.

Ayat ini sekaligus mengingatkan bahwa kesalehan spiritual individual itu belum memiliki makna yang integral sehingga pelakunya layak mendapat gelar muttaqi, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial, yang dalam ayat diatas diredaksikan dengan, “Wamimmaa razaqnaahum yunfiquun”. Yakni sikap peduli kepada sesama, tidak serakah, dan memiliki kepekaan untuk membantu orang-orang yang lemah dan tertindas. Dari ayat di atas sekaligus bisa dipahami, --secara dialektis— selain sebagai proses pencapain spiritual personal, puasa juga melatih kepekaan diri terhadap realitas sosial atau to be sensitive to the reality.

Di sinilah urgensinya kita memaknai puasa dalam konteks kemanusiaan universal. Bukankah prinsip Islam itu sejalan dengan cita-cita kemanusiaan pada umumnya? Sekali lagi, puasa dalam kerangka inilah yang bisa mengemban sisi kemanusiaan: melahirkan simpati dan empati kepada yang miskin, lapar, dan orang-orang yang dimarginalkan secara ekonomi.

Memantapkan Solidaritas Sosial
Pesan moral ibadah puasa termasuk sadaqah, infaq, zakat, dan amalan keagamaan lain di bulan Ramadhan sebenarnya hendak melatih diri kita untuk peka dan sensitif terhadap realitas sosial. Ritus semacam ini dapat mempererat kebersamaan, guna memantapkan rasa solidaritas sosial. Apalagi sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw., “Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan”. Dari sini bisa ditarik benang merah, mengapa setelah puasa satu bulan Ramadhan penuh lalu ditutup dengan mengeluarkan zakat, yaitu zakat Fitrah? Tidak lain, karena memberi zakat kepada orang yang tidak mampu, merupakan pelajaran kemanusiaan yang paling esensial.

Akhirnya, agar puasa Ramadhan yang kita lakukan pada tahun ini dapat menumbuhkan potensi spiritualitas pribadi di samping menumbuhkan kepedulian sosial sehingga lulus dan mendapat gelar muttaqi, maka puasa yang dilakukan harus diniatkan semata-mata untuk memenuhi kewajiban dan mencari ridha Allah yang dibarengi dengan mengeluarkan infaq, sedekah, dan membayar zakat Fitrah di penghujung puasa Ramadhan nanti. Marhaban Ya Ramadhan. 





Comments (0)
Tulis komentar
Detail kontak anda:
Comment:
Security
Silahkan inputkan kode anti-spam yang bisa terbaca pada gambar ini.